Senyum
sapa salam merupakan hal wajib bagi umat manusia yang berpendidikan. Untuk itu
kali ini saya akan menyapa kalian semua dengan sapaan yang unik. Hallo saya
manusia, senang rasanya kalian akan membaca tulisan saya. Pada waktu ini kalian
akan disuguhkan ketikan kalimat-kalimat yang membahas sebuah acara yang luar
biasa yaitu sebuah pagelaran teater tari.
Acara
ini dinamakan GEMAS atau Gerakan Melek Sejarah. Acara GEMAS terdiri dari
berbagai rangkaian acara seperti teater tari, nonton bareng, pameran lintas
literasi searah nasional, dan bedah buku. Dari beberapa acara yang sangat
mengesankan tersebut, saya paling tertarik dengan pagelaran teater tari, teater
tersebut diberi nama “Aku Diponegoro”. Acara tersebut diselenggarakan pada hari
Kamis 28 Maret 2019 pukul 20.00 WIB bertempat di Museum Pengabdian Pangeran
Diponegoro Magelang.
Acara
pagelaran ini dibuka oleh Wali Kota Magelang. Pukulan gong merupakan tanda
telah dibuka acara tersebut. Tidak hanya itu pagelaran teater ini dihadiri
bebrapa pejabat negara diantaranya Kepala Dinas Pendidikan Jateng, Direktur
Sejarah Kementrian Pendidikan Kebudayaan, PLT Kepala Dinas pendidikan Jateng
dan masih banyak lagi.
Teater
tari tersebut diadakan karena untuk merefleksi kembali sejarah perjuangan
Pangeran Diponegoro dengan cara kreatif dan inovatif. Tidak hanya itu acara
tersebut juga untuk memperingati 189 tahun penagkapan Pangeran Diponegoro di
Karisidenan Kedu.
Pagelaran
teater tari diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 lirik dan sebelum
masuk pada acara inti penonton disuguhkan oleh tarian Gedruk khas Magelang
baru dilanjutkan dengan pementasan teater. Acara ini berlangsung sangat meriah
dan didukung oleh cuaca malam hari yang cerah. Naskah pagelaran ditulis oleh
Landung Simatupang, Djarot B. Dharsono sebagai koreografer dan Danis Sugiyanto
sebgai komposer. Dari hasil karya tiga orang tersebut dapat memikat perhatian
penonton yang menyaksikan teater itu. Para lakon yang telah berlatih
berhari-hari sangat menjiwai peran mereka masing-masing. Bisa dibilang
pagelraan tersebut hampir mirip dengan peristiwa Pangeran Diponegoro pada
bertahun-tahun silam. Mulai dari kehidupan didesa, dipasar dan peperangan melawan Belanda digambarkan mirip
dengan jaman dahulu. Bahsa yang digunakan adalah bahsa Jawa dan Indonesia.
Tidak hanya itu iringan gamelan dan gendang semakin membuat acara pagelaran
semakin istimewa.
Sampai
jumpa lagi manusia 😊




Komentar
Posting Komentar